Merasa Bijak Tapi Bodoh
Tong kosong nyaring bunyinya.
Tentu kita semua sudah sering mendengar peribahasa ini. Peribahasa ini memilik
makna tersirat. Tong kosong berarti pandai berbicara, pandai menyampaikan ide
atau pendapat, sedangkan nyaring bunyinya berarti tidak mau melakukan apa yang
dibicarakan atau dikatakannya. Dengan demikian dapat diartikan "Tong
kosong, nyaring bunyinya" sebagai berikut: hanya pandai berpendapat
namun tidak mau melakukannya. Orang seperti ini bisa juga disebut orang yang
merasa bijak namun bodoh.
Perumpamaan yang Yesus
ajarkan dalam Lukas 16:1-15 berbicara tentang seorang bendahara yang tidak
jujur, namun hal menarik adalah Yesus memberikan nilai positif kepada sang
bendahara. Pemberian nilai positif kepada bendahara ini bukan karena
kesalahannya melainkan karena kecerdikannya. Kata “cerdik” dalam bahasa Yunani
adalah phronimos, yang berarti bijaksana dan memperhatikan
kepentingan seseorang. Yesus memuji sikap dari bendahara yang bijaksana ini,
karena ia dapat mempergunakan hal-hal di dalam dunia yang dia miliki bukan
untuk kepuasan dan nafsunya saja. Tuhan Yesus juga ingin murid-murid dapat
memanfaatkan segala sumber daya yang kita miliki sebaik mungkin dan
menginvestasikannya bagi kekekalan agar siap mempertanggungjawabkan kepada
Tuhan kelak (ay. 9). Bukan untuk memenuhi keinginan, kemewahan, atau
kesenangan kita semata, apalagi sampai tidak mengindahkan orang miskin di
sekitar kita. Tetapi, lebih dari itu, kita diminta untuk mengelola sumber daya
yang berasal dari Tuhan tersebut bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga
untuk orang lain.
Murid Kristus harus
belajar untuk tidak terjebak dalam pemikiran diri sendiri yang merasa
bijaksana. Seperti orang Farisi berusaha menutupi keadaan rohani mereka yang
sebenarnya dengan berbagai ritual dan praktik keagamaan. Namun, mereka gagal
mengelola berkat Tuhan. Orang Farisi ini dapat diibaratkan sebagai orang yang
NATO (No Action Talk Only), maka dari hal tersebut Tuhan Yesus mencemooh
mereka dengan memberi teguran yang tajam terhadap mereka (ay. 15). Murid
Kristus harus lebih berhikmat dalam memaksimalkan segala berkat yang diberikan
Tuhan kepadanya. Jangan hanya menyimpan berkat dari Tuhan, baik itu
pengetahuan, hikmat, materi hanya untuk diri sendiri, melainkan juga dibagikan
kepada sesama. Jadilah murid Kristus yang tidak hanya tahu dan fasih mengatakan
berkat dari Tuhan, namun juga mau melatih diri berbagi berkat Tuhan kepada
orang lain demi terciptanya kebaikan bersama yang memuliakan Tuhan.

Komentar
Posting Komentar